Belajar Lebih Interaktif Dengan Teman Belajar

TemanPrivat

Belajar dengan guru les privat terbaik di Indonesia. Bisa online maupun offline.

Selengkapnya ➜

TemanTryout

Tryout Online dengan soal-soal HOTS dan pembahasan yang lengkap.

Selengkapnya ➜

Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA

Teks Cerita Sejarah: Pengertian, Ciri, Struktur dan Contoh9 min read

16 Juni 2021 6 min read
Teks Cerita Sejarah

author:

Teks Cerita Sejarah: Pengertian, Ciri, Struktur dan Contoh9 min read

Reading Time: 6 minutes

Haloooo Teman Ambis

Pernahkah kalian membaca cerita asal-usul Candi Borobudur? Yup, cerita tersebut merupakan bagian dari teks cerita sejarah. Tapi, kalian tahu nggak sih, apa itu teks sejarah dan bagaimana ciri-cirinya? Buat kalian yang belum tahu, yuk kita simak bersama pengertian teks cerita sejarah beserta ciri dan strukturnya sebagai berikut.

Definisi Teks Cerita Sejarah

Teks cerita sejarah adalah sebuah karangan imajinasi yang ditulis berdasarkan latar sejarah yang benar-benar terjadi. Meskipun cerita sejarah termasuk dalam cerita fiksi, namun penulisan cerita sejarah harus didasari dengan data sejarah yang faktual. Data ini digunakan sebagai latar atau alur dalam cerita.

Prinsip yang mendasari penulisan cerita sejarah antara lain

  1. cerita sejarah menerjemahkan peristiwa sejarah yang dibumbui imajinasi penulis,
  2. cerita sejarah menjadi sarana bagi penulis untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya mengenai suatu peristiwa sejarah, serta
  3. cerita sejarah merupakan bentuk pengungkapan kembali peristiwa-peristiwa sejarah.

Dalam menulis cerita sejarah, penulis memiliki kebebasan menulis dengan imajinasinya dalam bentuk karakter tokoh maupun konflik cerita. Namun, penulis tetap harus mencocokkan hasil tulisannya dengan peristiwa sejarah yang pernah terjadi.

Ciri-Ciri Teks Cerita Sejarah

Ciri-ciri cerita sejarah yaitu:

  1. Disajikan secara kronologis atau mengutamakan urutan kejadian.
  2. Berbentuk cerita ulang.
  3. Menggunakan konjungsi temporal.
  4. Struktur teksnya terdiri dari orientasi, deskripsi peristiwa sejarah, komplikasi, resolusi atau reorientasi.

Struktur Teks Cerita Sejarah

Cerita sejarah ditulis melalui empat tahap sebagai berikut:

  1. Orientasi: bagian awal atau pembukaan cerita.
  2. Deskripsi peristiwa sejarah: rekaman peristiwa sejarah yang ditulis secara kronologis.
  3. Komplikasi: bagian cerita yang berisi permasalahan inti atau konflik cerita. Komplikasi merupakan bagian paling menarik dan menjadi inti pembangun cerita.
  4. Resolusi atau reorientasi: penyelesaian masalah dalam cerita.

Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

Kaidah kebahasaan dalam teks cerita sejarah yaitu:

  1. Pronomina atau kata ganti

Pronomina merupakan kata yang dipakai untuk menggantikan orang atau benda, misalnya ia, dia, mereka, itu, ini, dan sebagainya.

  1. Frasa adverbial

Frasa adalah kelompok kata yang menduduki satu fungsi yang sama dalam sebuah kalimat atau klausa. Frasa adverbial berarti frasa yang berfungsi sebagai keterangan, yang menjelaskan waktu terjadinya peristiwa atau intensitas kegiatan, misalnya sedang bersedih, telah pulang, akan pergi, baru saja menghilang, dan sebagainya.

  1. Verba material

Verba material adalah kata kerja yang menunjukkan aktivitas yang dilakukan subjek kalimat. Verba ini menunjukkan perbuatan fisik atau peristiwa yang terjadi, misalnya menulis, mengangkat, mendorong, dan sebagainya.

  1. Konjungsi temporal

Konjungsi temporal merupakan kata hubung yang menyatakan urutan peristiwa, misalnya setelah itu, kemudian, lalu, selanjutnya, dan sebagainya.

Langkah-Langkah Menulis Teks Cerita Sejarah

Teks cerita sejarah yang merupakan bentuk ulang atau penciptaan kembali suatu peristiwa sejarah harus ditulis berdasarkan data yang faktual. Adapun langkah-langkah penulisan cerita sejarah, yaitu

  1. menentukan tema,
  2. menentukan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik,
  3. mengumpulkan bahan melalui kegiatan observasi, pengamatan, dan studi pustaka,
  4. membuat kerangka cerita, dan
  5. menulis cerita utuh dengan menambahkan imajinasi untuk mempermanis cerita.

Contoh Teks Cerita Sejarah

Dian; Temaram (1979)

Anissa Nur

(Sebuah cerita klasik tentang malam-malam di Keraton Kesunanan Surakarta pada masanya)

Solo, November 1979

Malam baru dimulai sejak satu jam yang lalu di ujung selatan Desa Gajahan, Pasar Kliwon. Dersik angin menerpa pepohonan yang gelap. Masuk melalui kisi-kisi jendela dan atap rumah yang sesekali bocor saat musim hujan. Suasana dingin karena hujan tadi sore masih membekas. Jalanan tampak lengang dan bergenang. Aroma petrikor dan embun selepas hujan masih semerbak menyeruak. Tampak lampu petromaks dari rumah-rumah berpendar, menembus jendela-jendela kayu dan tirai tipis. Azan Isya baru saja dikumandangkan di surau. Samar terdengar karena tidak menggunakan pengeras suara. Terlihat bapak-bapak berjalan ke surau di sela-sela gelapnya malam. Mengenakan baju rapi, peci, dan sarung. Membawa lentera kecil di tangan kanan dan sajadah yang disampirkan di pundak. Suara katak dan belalang terdengar cukup jelas. Seakan turut menemaramkan suasana malam yang mati listrik ini. Ah, tidak. Malam-malam biasanya juga seperti ini. Selalu tentang malam tanpa penerangan dan semilir angin yang mengudara menyelimuti kenirsuaraan.

Terdengar suara pintu berdecit yang disusul dengan suara berat. “Mas, ayo neng surau,[1]

“Nggih, Pak.[2] Seorang remaja 20 tahun menyahut sambil memakai peci dan merapikan sarung.

Mengetahui dua laki-laki yang selama ini bersamanya akan pergi ke masjid, Amalia meminta ikut. Segera ia meminta Rahmat—ayahnya dan Rendra—kakaknya untuk menunggunya lima menit. Dilangkahkan kakinya ke sumur belakang. Menimba air untuk berwudu. Suara katrol timba berdecit keras. Gemercik air yang dialirkan dari padasan mengalun memercik kesunyian. Dilihatnya sekeliling. Suasana sangat gelap dan hening. Hanya sesekali terdengar suara katak di sungai kecil dan satu dua tetesan air hujan yang menetes dari atap rumah ke ember di samping sumur. Lampu desa di ujung jalan belakang rumahnya yang biasanya menyala, malam ini padam. Menyisakan kegelapan.

Pintu rumah dikunci. Mereka berjalan pelan-pelan menuju surau. Sambil mengarahkan lentera ke jalan, barang terinjak genangan air hujan. Satu dua kali mereka bertemu orang yang juga ingin salat berjemaah di surau. Lenteranya kecil-kecil dibawa untuk penerangan jalan. Saat ini memang rumah-rumah banyak yang belum dialiri listrik. Hanya terlihat beberapa lampu di ujung-ujung jalan sebagai titik penerangan. Selebihnya, saat malam telah tiba, suasana berubah remang-remang dan sunyi. Anak-anak jarang yang bermain di luar. Mungkin pada hari-hari tertentu seperti malam Sabtu atau Minggu. Aktivitas masyarakat mayoritas dihentikan. Semua seolah memilih diam di rumah. Memandangi dian yang menggantung di dinding kayu atau diletakkan di atas meja. Sesekali terdengar suara orang mengaji di surau atau di rumah masing-masing. Suaranya sayup-sayup lantang dan menenangkan. Mengangkasa dalam cakrawala malam, berpangku purnama dan dian yang temaram.

●●●

Hujan kembali turun pagi-pagi. Suasana pedesaan yang masih pekat sudah diguyur hujan yang lumayan deras. Rinainya mengalir di sela-sela daun dan genting-genting rumah. Menghunjam tanah yang belum kering akibat hujan kemarin. Aroma petrikor kembali menusuk indra penciuman. Masuk mengaliri paru-paru bersama udara segar pagi.

“Lia,” panggil Rendra saat melihat Amalia berdiri di tepi teras rumah dengan menengadahkan tangan ke hujan.

Yang dipanggil menoleh. Terlihat Rendra berdiri di ambang pintu dengan senyumnya yang sangat manis. Lesung pipit di kedua pipinya dan gigi gingsul menambah kemanisannya. Segera dibalasnya senyum Rendra. “Kenapa, Mas?”

“Dino iki melu bapak neng keraton, yuk,[3]ajaknya.

“Neng keraton ngapain, Mas?[4]

“Persiapan Kirab Kebo[5] Bule Malam Satu Suro, Ya.”

“Oh, iyo. Numpak pit onthel?[6]

“Iyo.”

Amalia membalas dengan tersenyum. Ia selalu suka jalan-jalan, entah jalan kaki atau naik kendaraan. Besok malam adalah malam 1 Muharram, malam pergantian tahun baru Islam. Tradisi kirab kebo yang sudah ada sejak dahulu tetap dilaksanakan. Ia sebenarnya tidak tahu persis tentang bagaimana acara di malam Satu Suro. Tetapi ia cukup tahu karena Rahmat diamanahi oleh orang keraton untuk menjadi barisan semut hitam—pengawal kebo saat arak-arakan.

Amalia berbalik badan. Menuju kamar. Memilih setelah yang akan dipakainya untuk pergi ke keraton. Digantinya baju dengan black polkadot skirt dan kaos putih polos. Rambutnya yang panjang sepunggung atas dikucir dua dan diberi pita putih. Diambilnya sling bag hitam yang tergantung di belakang pintu, disampirkannya pada pundak kanan. Dilingkarkannya jam tangan putih di lengan kiri.

Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di Keraton Surakarta. Sebenarnya, persiapan Malam Satu Suro sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tetapi hari ini ada persiapan lagi untuk kirab besok malam agar berjalan lancar. Minimal memandikan kerbau-kerbaunya, memberi makan, dan menyiapkan barang-barang yang akan digunakan dalam kirab.

“Udah sampai, turun.” pinta Rendra.

Berbagai persiapan untuk kirab besok dilakukan. Bunga melati, makanan dan minuman, sesajen, pusaka keraton, dan barang-barang lain dipersiapkan. Kebo bule juga dijaga, dirawat, dan dimandikan sehati-hati mungkin karena kerbau ini merupakan keturunan Kyai Slamet yang diyakini masyarakat memiliki kekuatan gaib yang mampu mendatangkan berkah. Ritual Malam Satu Suro dan kirab kebo bule diselenggarakan untuk memohon berkah dan keselamatan serta sebagai wujud refleksi diri untuk menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang juga bertepatan dengan tahun baru Islam. Acara ini dilakukan oleh Keraton Kesunanan Surakarta dan abdi dalem bersama masyarakat Surakarta pada umumnya.

●●●

Suasana keraton sudah cukup ramai meski acaranya dimulai nanti pukul dua belas. Banyak bapak-bapak berpakaian beskap hitam-hitam, ada yang memakai jarik dan baju batik juga. Ada juga beberapa wanita yang mengenakan kebaya. Terlihat para abdi dalem mempersiapkan barang-barang untuk ritual nanti malam. Banyak juga masyarakat Surakarta yang datang ke keraton menyaksikan ritual Malam Satu Suro dengan berjalan kaki atau rombongan dengan angkutan umum untuk berebut kotoran kebo bule, makanan, minuman, maupun bunga melati yang dikalungkan di lehernya karena dianggap dapat membawa keberkahan.

Pukul dua belas malam. Kopi dan air putih disiapkan untuk sesaji. Amalia dan Rendra hanya melihat dari kejauhan. Setelah diminum, beberapa masyakarat langsung berebut sesaji tersebut. Amalia yang melihat hal itu menggigit bibir bawah hingga tampak lesung pipitnya. Sampai sekarang ia masih bertanya-tanya mengapa banyak masyarakat yang berebut sisa-sisa ritual dan kirab selain karena diyakini dapat membawa keberkahan dan keberuntungan. Namun bagaimanapun juga, hal itu sudah menjadi tradisi dan kearifan lokal masyarakat Solo.

Kirab dimulai. Pusaka-pusaka di barisan depan. Barisan kirab dan para abdi dalem berjalan dari halaman depan keraton menuju sapit urang, lalu ke lapangan, memutar, lalu ke Jalan Slamet Riyadi, kemudian ke Loji Wetan ke kanan sampai Baturono atau sekeliling keraton, dilanjutkan ke kiri sampai Gemblegan, lalu ke Slamet Riyadi lagi, hingga akhirnya kembali ke keraton. Mengarak dan membawa keliling pusaka keraton dan kerbau keraton ini sebagai makna simbolis dari beberapa leluhur keluarga keraton tersebut.

Setelah selesai kirab, masyarakat banyak yang mengambil kotoran kebo bule dan berebut sisa-sisa makanan maupun barang-barang kirab. Sempat terjadi desak-desakan dan beberapa kali Amalia yang hanya melihat dari pinggir juga terdesak-desak, bahkan hampir ikut ke tengah—halaman depan keraton. Rendra segera menariknya untuk lebih menepi lagi.

Amalia dan Rendra memutuskan untuk pulang pukul satu dini hari. Suasana jalan cukup lengang. Hanya sedikit kendaraan yang masih lewat. Hawa dingin menusuk tubuh. Rendra terus mengayuh sepeda dan Amalia berpegangan pada kaosnya. Sampai di Desa Gajahan, suasana sangat senyap. Mungkin orang-orang sudah tidur. Lampu-lampu petromaks yang biasanya tampak dari celah-celah jendela atau tirai tipis, banyak yang dimatikan. Suara hewan-hewan malam seolah terdengar menggema. Bulan masih setia pada langitnya. Menerangi malam pergantian tahun yang cukup temaram ini. Amalia tersenyum kecil. Ia senang bisa membonceng Rendra—kakaknya. Jalan-jalan di malam hari yang gelap. Menyaksikan prosesi kirab kebo bule. Mengunjungi Keraton Surakarta malam-malam. Memetik nilai budaya dan kearifan lokal yang masih tersimpan. Ia menghela napas pelan. Seribu sembilan ratus tujuh puluh sembilan dan dian-dian yang temaram, akan menjadi kenangan klasik di masa depan.

[1] Mas, ayo ke surau

[2] Baik, Pak

[3] Hari ini ikut bapak ke keraton, yuk

[4] Ke keraton ngapain, Mas?

[5] Kerbau

[6] Oh, iya. Naik sepeda?

Wah, hari ini kita sudah belajar banyak tentang teks cerita sejarah, mulai dari pengertian hingga contoh teks cerita sejarah. Untuk kalian masih kesulitan dengan mater-materi bahasa Indonesia, kalian bisa coba untuk belajar bareng guru les privat bahasa Indonesia di Teman Belajar. Kamu bisa pilih guru privatmu sendiri dengan harga terjangkau, karena di Teman Belajar #SemuaAdaGurunya.

Les Privat | Teman Belajar
Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.