Photo by Ludovic Toinel on Unsplash

Perubahan dan Disruption sebuah kata yang akhir-akhir ini sering kita dengar. Selama beberapa dekade terakhir dunia mulai berubah jauh lebih cepat. Menurut Thomas Friedman, perubahan yang memakan waktu satu atau dua dekade. Sekarang terjadi dalam waktu yang lebih cepat yaitu 5 sampai 15 tahun karena perkembangan teknologi. Perubahan tidak lagi terjadi secara linear, melainkan eksponensial. Sebagai contoh bila dulu rumah tangga di seluruh dunia belum dilengkapi dengan teknologi informasi mobile dibutuhkan 38 tahun bagi radio untuk memiliki 50 juta pengguna, kini hanya butuh waktu tiga tahun untuk internet, setahun untuk facebook dan sembilan bulan bagi twitter untuk mencapainya, dahulu kita mengenal kereta-kereta kuda sebagai alat transportasi yang kemudian perlahan-lahan digantikan oleh mobil. Atau ketika kapal-kapal layar digantikan dengan kapal bermesin dengan daya tampung yang lebih besar dan kecepatan yang lebih tinggi, toko-toko retail yang mulai gulung tikar karena hadirnya e-commerce atau kita bisa mengambil contoh yang baru saja terjadi yaitu kasus sopir taksi konvensional yang kehilangan sebagian besar pendapatannya karena hadirnya layanan transportasi online.

Tak masalah kalau teknologi menggantikan otot manusia dan membuat pekerjaan kita menjadi lebih manusiawi. Namun sayangnya perkembangan teknologi tidak hanya sampai disitu. Menurut McKinsey (2015) “robot membuat otomatisasi berjalan. Ini sangat mengancam terutama unutk kalangan kelas pekerja”. Study yang dilakukan McKinsey menggambarkan berapa banyak jenis pekerjaan yang sudah bisa diotomatisasi oleh teknologi yang sudah ada. Sebanyak 9% pekerjaan yang berhubungan dengan pengelolaan SDM akan digantikan oleh teknologi, 20% pekerjaan yang berhubungan dengan pelayanan, 25% pekerjaan fisik, 64% pekerjaan yang berhubungan dengan pengumpulan data dan pemrosesan data serta 78% pekerjaan-pekerjaan yang mengandalkan rutinitas akan dapat digantikan oleh teknologi atau kecerdasan buatan. Sebagai contoh teknologi blockchain yang diperkirakan akan mengurangi jumlah profesi akuntan, headphone buatan google yang mampu memberikan terjemahan secara realtime yang mungkin akan menghilangkan profesi penerjemah. Pustakawan, kredit analis, teler bank yang mungkin segera digantikan oleh kecerdasan buatan dan tentunya masih banyak contoh lain baik yang sedang atau akan terjadi.

Pada dasarnya sekolah mengajarkan kompetensi inti yaitu (3M) membaca, menulis dan menghitung. Padahal kecerdasan buatan telah lama melampaui kemampuan tersebut. Kebutuhan anak sekolah lebih dari sekedar membaca, menulis dan menghitung. Lalu bagaimana kita mempersiapkan masa depan anak-anak kita dalam menghadapi era digital disruption ini? Bos Alibaba pernah memberikan pendapatnya tentang hal ini, menurut Jack Ma : anak-anak kita harus belajar bagaimana cara belajar, diberikan pendidikan yang relevan, dilatih hidup mandiri, berfikir kritis, dorong untuk menjelajahi profesi-profesi baru di masa depan, kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan dan yang terpenting ajarakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi seperti : berfikir kreatif, inovatif, kerja sama tim dan terkait budaya. Orang tua perlu menekankan pentingnya Pendidikan karakter dan soft skill agar kelak anak-anak kita mampu menjadi pribadi yang mandiri dan mempunyai kehidupan yang lebih baik.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *