Foto : kidsinthehouse

Sebelum memulai pembahasan mengenai bagaimana cara mengatasi kecanduan game pada anak, pernahkah kita sebagai orang tua bertanya tentang penyebab seorang anak bisa menjadi pecandu game? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab karena game merupakan permainan yang seru dan mengasyikkan. Jawaban tersebut memang benar, tetapi ada sesuatu yang lebih “dalam” dari sekedar seru dan mengasyikan.

Sebagian besar orang tua tentu merasa jengkel ketika anak-anak mereka kecanduan game. Mereka khawatir akan dampak buruk dari bermain game seperti mengganggu proses belajar, resiko obesitas dan dapat mengganggu kesehatan mata. Tetapi, tidak sedikit juga orang tua yang membiarkan anak-anaknya bermain game seharian penuh. Alasanya, supaya anak-anak tidak mengganggu aktivitas orang tua yang sedang asyik mengobrol, bermain gadget, menonton TV atau bekerja.

Dunia Game

Baiklah kita pahami lebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia game. Supaya lebih fair, saya ajak orang tua untuk melihat dunia game dari sudut pandang seorang anak. Dunia game merupakan dunia yang sangat apresiatif. Ketika seorang anak baru bergabung dalam dunia game, ia akan mendapat sambutan yang luar biasa. Begini kira-kira kalimatnya “ Selamat datang, inilah pahlawan baru kita yang siap menyelamatkan dunia dari monster-monster jahat”. Luar biasa apresiatif bukan? Dalam dunia game seseorang yang bukan siapa-siapa di dunia nyata bisa menjadi siapa-siapa. Maksudnya jika seorang anak di dunia nyata adalah orang biasa, anak yang di dunia nyata maupun di sekolah bermasalah atau sering mendapat label negatif dari lingkungannya, bisa berubah total jika anak tersebut memainkan peran dalam game.

Sebagai contoh bila seorang anak bermasalah dengan nilai dan sikapnya di sekolah, bisa saja di dunia game dia adalah seorang pahlawan yang kuat, banyak menolong orang dan dihargai. Perannya dalam dunia game seperti raja yang di hormati, semua perintah dan keinginnannya dapat di turuti. Terlebih lagi dalam dunia game tidak ada kata gagal, kalaupun gagal tidak akan ada yang menghukum atau mengolok-olok. Sebaliknya, ia akan dihidupkan kembali disuruh mencoba lagi, coba lagi dan seterusnya sampai ia berhasil. Ketika berhasil, ia akan mendapat penghargaan  atau apresiasi yang luar biasa. Lihat saja bagaimana ketika seseorang berhasil menyelesaikan tantangan dalam dunia game, ia akan mendapat apresiasi yang luar biasa seperti skor yang tinggi, ucapan selamat diiringi hadiah, dielu-elukan dan dipuja seperti seorang pahlawan dan ditutup dengan perayaan yang luar biasa menyenangkan.

Dunia Nyata

Itulah dunia game anak-anak kita. Sangat apresiatif. Coba sekarang kita bandingkan dengan dunia nyata yang mereka hadapi sehari-hari, apa yang terjadi ketika seorang anak gagal? Biasanya hukuman, olok-olok dan labeling acap kali diterima seorang anak yang gagal dalam sesuatu. Berbeda sekali bukan dengan dunia game yang tidak mengenal hukuman? Lalu apa yang terjadi ketika seorang anak berhasil? Apakah kita sebagai orang tua memberikan apresiasi atau penghargaan atas keberhasilan tersebut? Sebagian besar orang tua mungkin memberi pujian, tapi apakah pujian tersebut tulus? Ingat, anak-anak kita sangat jeli. Meskipun memberikan pujian, mereka bisa merasakan tidak adanya ketulusan disitu.

Begitulah sejak kecil kita dibesarkan dan membesarkan anak-anak di lingkungan yang minim apresiasi dan gemar menghukum. Kita begitu mudah mengkritik dan mencari kesalahan orang lain, tetapi sulit sekali untuk bisa melihat kelebihannya apalagi mengapresiasi.

Bagaimana Mengatasi Kecanduan Game?

Anda sudah mengetahui permasalahannya. Berikut ini adalah tips yang dapat anda lakukan untuk menangani masalah kecanduan game pada anak :

  1. Komunikasikan dan beri arah yang jelas :

Jelaskan kepadanya bahwa game adalah sekedar hiburan. Buat dia sadar bahwa keberhasilan dalam dunia game hanya bersifat virtual atau imajiner dan tidak ada hubungannya dengan kesuksesan di dunia nyata. Tekankan bahwa lebih penting untuk mendapatkan keberhasilan di dunia nyata (mendapat nilai bagus, mendapat uang sungguhan, belajar ketrampilan yang berguna bagi dunia nyata).

  1. Tetapkan aturan khusus :

Disukusikan dengan anak tentang batas waktu maksimal untuk bermain game, mintalah pendapat mereka dan komunikasikan dengan sebaik mungkin. Beri mereka arah tentang dampak negative jika terlalu lama dengan game.  Namun, anda sebaiknya memberikan waktu satu jam pada hari sekolah dan maksimal 2-3 jam pada akhir pekan. Beritahu konsekuensi yang mengikuti bila aturan tersebut tidak ditaati.

  1. Jadikan waktu bermain game sebagai hadiah :

Jadikan waktu bermain game sebagai hadiah. Misalnya ketika ia mampu mempertahankan nilai tertentu atau ketika ia telah berhasil menyelesaikan tugas/kewajibannya.

  1. Perkenalkan anak pada hal-hal menyenangkan lainnya yang bermanfaat bagi kehidupan nyata :

Untuk merubah kebiasaan bermain game, kita perlu merusak pola lama terlebih dahulu kemudian menggantinya dengan pola baru. Kenalkan pada aktivitas-aktivitas menyenangkan di kehidupan nyata seperti olahraga, mempelajari alat musik tertentu, membaca buku, berlibur bersama keluarga atau bersosialisasi dengan teman.

Semoga tulisan ini bermanfaat  🙂

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *